Navigasi Halaman : Beranda » Info Klub » Belanda Menyusun Teka -Teki Rekonstruksi Usai Ditimpa Malapetaka Di Uero 2016

Belanda Menyusun Teka -Teki Rekonstruksi Usai Ditimpa Malapetaka Di Uero 2016

Belanda Menyusun Teka -Teki Rekonstruksi Usai Ditimpa Malapetaka Di Uero 2016

Belanda Menyusun Teka -Teki Rekonstruksi Usai Ditimpa Malapetaka Di Uero 2016

Bolabos.com – Setelah babak kualifikasi yang tidak mengesankan skuad Belanda dipastikan gagal memesan tiket Euro 2016 Prancis. Penampilan impresif Belanda mencapai semi-final Piala Dunia Brasil tahun lalu seakan hanya ilusi. Sinyal lampu kuning langsung menyala begitu tim arahan Guus Hiddink dikalahkan Italia pada tugas perdananya, Agustus tahun lalu. Sepuluh menit pertama pertandingan, dalam sekejap Belanda tertinggal dua gol dan bermain dengan sepuluh orang.

Keruntuhan secara bertahap menerpa Oranje. Belanda menelan kekalahan 2-1 di kandang Ceko pada laga pembuka kualifikasi. Gol kemenangan lawan terjadi di akhir laga ketika Daryl Janmaat melakukan sundulan defensif yang malah membentur tiang. Bola pun dengan mudah dicocor pemain lawan ke dalam gawang Jasper Cillessen. Di luar kemenangan 6-0 atas Latvia, Belanda tak pernah mampu bangkit.

Hiddink kemudian mundur dari jabatan Juni lalu dan digantikan dengan Danny Blind. Sebelumnya, Blind menempati posisi sebagai asisten sejak era Louis van Gaal. Tugas pertama Blind adalah dua laga krusial menghadapi Islandia dan Turki, September lalu. Blind terbukti gagal. Dari empat pertandingan yang dijalaninya, Belanda hanya mampu memetik satu kemenangan, yaitu atas Kazakhstan.

Secara keseluruhan, hanya satu poin yang berhasil diraih Belanda kala menghadapi tiga tim peringkat teratas grup: Islandia, Ceko, dan Turki. Itu pun terjadi setelah bola tendangan Wesley Sneijder berbelok menghantam tubuh Klaas-Jan Huntelaar pada menit terakhir pertandingan menjamu Turki di Amsterdam. Pertandingan itu berakhir imbang 1-1. Sisanya, kandang dan tandang, Belanda terkapar.

Kebijakan penunjukan pelatih yang dilakukan KNVB menjadi awal tragedi. Ketika dipilih kembali untuk kali kedua menangani Belanda, Hiddink mengusung semangat mengembalikan formasi 4-3-3 dan pola bermain ofensif. Itu sesuai dengan ciri khas Belanda. Mengulang pendapat Johan Cruyff usai kegagalan Belanda, sukses di Piala Dunia Brasil membutakan analisis tentang situasi yang sebenarnya dihadapi oleh tim.

Belanda sukses mencapai final Piala Dunia 2010 dan semi-final Piala Dunia empat tahun berselang justru berkat penampilan yang melawan kelaziman. Bert van Marwijk memeragakan pragmatisme dengan mengusung sepakbola “otomatisme”, yaitu menurunkan susunan tim yang relatif sama dari pertandingan ke pertandingan.

Cedera yang menimpa Kevin Strootman di awal 2014 dengan cepat menyadarkan Louis van Gaal. Belanda tak mungkin sanggup memainkan romansa 4-3-3 di Brasil. Formasi 5-3-2 pun dipilih bertolak dari inspirasi Feyenoord Rotterdam memainkan pola yang sama ketika dilanda krisis cedera.

Kekalahan 2-0 dari Italia sebenarnya menyadarkan Hiddink, ada sesuatu yang tidak berjalan dengan rencana awalnya. Hiddink kemudian memainkan formasi lima bek menghadapi Ceko, tetapi begitu kebobolan di babak pertama, dengan cepat Hiddink mengganti Joel Veltman dengan Luciano Narsingh.

Kasihan Hiddink yang gamang. Pelatih 68 tahun itu tak kunjung mampu menemukan solusi, tetapi penunjukan Blind tak melepaskan Belanda dari rentetan malapetaka. Di bawah Blind, Belanda tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Tim malah seperti bermain tanpa taktik sama sekali. Ketika menyerang para pemain kerap terisolasi, sedangkan saat bertahan kocar-kacir. Menyedihkan.

Ada analisis yang mengatakan para pemain muda Belanda kehilangan figur pelatih seperti Van Gaal yang dogmatis. Dengan berbagai rincian prinsip yang tak boleh dilanggar, para pemain malah lebih memahami tugas mereka di atas lapangan. Ketika ditangani Hiddink, yang lebih relaks, para pemain justru kehilangan arah. Di tangan Blind yang clueless, skuat pun kian berantakan.

Di luar area teknis tim, situasi kompetisi domestik tak banyak menolong. Klub-klub Eredivisie kian lama kian menjadi penggembira di kompetisi antarklub Eropa. Terakhir hanya PSV Eindhoven yang berhasil menembus semi-final Liga Champions 2005. Ajax Amsterdam, yang empat kali beruntun menjuarai Eredivisie, tak pernah sanggup melewati fase grup Liga Champions.

Kualitas pemain menjadi pertanyaan berikutnya. Pemain terbaik Belanda 2015, Georginio Wijnaldum, memilih pindah dari PSV ke Newcastle United. Klub barunya saat ini tengah mendekam di papan bawah klasemen Liga Primer Inggris. Lalu, ke mana sekarang Marco van Ginkel yang pernah dinobatkan sebagai pemain muda terbaik Belanda 2013? Terkecuali perekrutan Memphis Depay oleh Manchester United, tidak ada lagi klub papan atas yang berminat merekrut pemain muda Belanda.

Namun, menilai rendahnya kualitas pemain sebagai biang penyebab kegagalan Belanda adalah dalih yang sangat menyederhanakan masalah. Di bawah taktik yang tepat, sebuah tim dapat tampil mengejutkan meski tidak memiliki materi bertabur pemain bintang. Kualitas tim menentukan, tapi bukan faktor tunggal yang menjadi penyebab kegagalan Belanda. Bukan pula krisis cedera pemain yang dikeluhkan Blind.

Lalu, apa yang harus dilakukan Belanda? Usai kegagalan ini, muncul gagasan membangun ulang kekuatan Oranje. Barangkali tak sekadar membangun ulang, melainkan sebuah reparasi “turun mesin”. Pertanyaan besarnya, apakah filosofi yang diusung KNVB masih relevan dengan perkembangan sepakbola modern?

Gagasan revolusioner Rinus Michels 40 tahun silam melahirkan filosofi yang menjadi dasar munculnya berbagai pemain dan pelatih seperti Johan Cruyff, Van Gaal, Hiddink, Leo Beenhakker, Ronald Koeman, Frank Rijkaard, Ruud Gullit, Marco van Basten, Dennis Bergkamp, Frank de Boer, Phillip Cocu, Ruud van Nistelrooy, dan lain-lain. Tapi tak berarti filosofi itu tidak dapat disesuaikan dengan kemajuan zaman.

Para pemain muda Belanda kini dicetak sebagai pengumpan yang handal tapi tak punya spesialisasi. Para pemain kelahiran medio 1980-an, misalnya, masih memiliki karakter itu. Sneijder memiliki keahlian dalam menembak, Arjen Robben menggiring bola, dan Robin van Persie mencari gol.

Daley Blind menjadi contoh pemain kelahiran 1990-an yang tak memiliki spesialisasi. Pemain Manchester United ini bagus dalam mengumpan, tapi kemampuannya rata-rata dalam hal melakukan tekel, marking, atau duel udara. Ketika Stefan de Vrij mencoba membentuk massa tubuh dengan menambah porsi latihan di gym, pelatihnya di Feyenoord menegur karena dianggap tak sesuai dengan kemampuan yang dicari dari seorang pemain belakang.

Barangkali pula Belanda kali ini membutuhkan konsultasi pelatih asing untuk memimpin upaya merekonstruksi sepakbolanya. Ernst Happel menjadi pelatih asing terakhir yang pernah menangani timnas Belanda. Terlepas dari kontroversi yang mengitari periode kepelatihannya, pelatih asal Austria itu sukses membawa Belanda ke final Piala Dunia 1978.

Tapi, KNVB belum merasa perlu memikirkan langkah rekonstruksi. Danny Blind tetap dipertahankan sebagai pelatih (dan yang bersangkutan pun bersikukuh merasa tidak melakukan banyak kesalahan dalam melatih). Begitupun juga dengan Bert van Oostveen yang menolak meletakkan jabatan sebagai direktur KNVB.

Malang tak dapat diraih. Kenyataan pahit harus ditelan bulat-bulat. Belanda gagal menembus kejuaraan besar dan tidak ada tanda-tanda perubahan. Setidaknya untuk saat ini. Sampai arah perubahan baru benar-benar dicetuskan, sepakbola Belanda menyisakan teka-teki yang tak terjawab. Penggemar timnas Belanda kini dapat dengan gelisah menunggu kualifikasi Piala Dunia 2018 dimulai September tahun depan karena tiket ke Rusia dalam pertaruhan.

By Bolabos.com