Navigasi Halaman : Beranda » Ragam Sepak Bola » Si Angsa dari Utrecht

Si Angsa dari Utrecht

Si Angsa dari Utrecht

Si Angsa dari Utrecht

Bolabos.com – Apa menyenangkannya dijuluki angsa? Angsa itu bukan hewan gagah, ia cuma galak. Kata orang, angsa itu anggun (walau tak sekali pun saya melihat angsa-angsa anggun berkeliaran di negeri ini), namun jika julukan itu diberikan buat seorang pesepakbola, memangnya seberapa penting keanggunan itu?
Zeger van Herwaarden, penulis asal Belanda, dalam bukunya yang berjudul “Marco van Basten: De Jaren in Italic en Oranye” menjelaskan bagaimana keanggunan seorang Marco Van Basten. Katanya, kecintaan publik kepada Van Basten itu hanya ada di kepala karena pesepakbola asal Utrecht itu bukannya pesepakbola yang melebur kepada para pendukungnya.

Van Basten bukan tipe pesepakbola yang menyukai basa-basi dan ramah-tamah. Sebagai pesepakbola, ia sadar kalau tugasnya hanya bersepakbola. Ia tak pernah merasa punya kewajiban untuk melayani permintaan foto dan tanda tangan para suporter.

Van Basten tak serupa Garrincha yang gemar melebur dengan masyarakat Brasil. Ia juga berbeda dengan Socrates yang tak segan menggerakkan massa. Menurut Van Herwaarden, keanggunan Van Basten sebagai pesepakbola adalah keanggunan yang paripurna. Keanggunan yang membuat orang-orang di sekitarnya sadar diri kalau mereka tak bisa menyentuhnya.

Cara terbaik untuk mengagumi Van Basten adalah dengan mengaguminya dari jauh. Pesonanya hanya untuk dinikmati dari tribune stadion ataupun siaran televisi. Jika sekali waktu melihatnya melayani permintaan tanda tangan dan foto bersama, percayalah itu cuma upaya menyelesaikan pekerjaan. Jangan lekas terlarut haru karena yakin bahwa Van Basten begitu ingin menyatu dengan para pendukungnya.

Julukan angsa yang dialamatkan publik kepada Van Basten mengingatkan saya akan sajak W.S Rendra berjudul “Nyanyian Angsa”. Sajak ini merupakan salah satu sajak terpanjang yang pernah saya baca. Pertama kali membacanya, saya merasa biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bahkan, dibandingkan dengan membaca sajak, rasanya saya sedang membaca narasi.

Beberapa kali membaca, barulah saya menyadari mengapa sajak ini disebut-sebut sebagai salah satu karya monumental Rendra. Ia mengangkat kehidupan seorang pelacur bernama Maria Zaitun yang terpinggirkan karena terjangkit penyakit sipilis.

Rendra menggambarkan Maria Zaitun sebagai pelacur yang diusir dari rumah pelacuran karena ia sudah lama sakit. Maria Zaitun dianggap menyusahkan karena hanya bisa berbaring di tempat tidur, ia tak lagi bisa menghasilkan uang.

Jika memahami apa yang ditulis Van Herwaarden dalam bukunya tersebut, maka kita akan berkali-kali dihadapkan dengan apa yang ditakutkan, setidaknya dicemaskan, oleh Van Basten sebagai pesepakbola.

Sejak kecil, Van Basten memang hidup sebagai anak yang menggilai sepakbola. Barangkali jika diukur, sepakbola mengambil tempat terbanyak di dalam otaknya. Kegilaan Van Basten akan sepakbola ini sedikit-banyak dipengaruhi oleh ayahnya, Joop van Basten, yang merupakan seorang pelatih amatir.

Hari-hari Van Basten dihabiskan dengan sepakbola. Jam-jam menjelang tidurnya diisi dengan pembicaraan tentang taktik bersama ayahnya. Sebagai ayah, Joop juga terkenal keras, terutama kepada anaknya sendiri. Ia tak pernah memuji Van Basten, sebagus apapun permainannya.

Kerasnya didikan sang ayah menjadikan Van Basten tumbuh sebagai anak yang keras. Di hadapan orang lain dan dirinya sendiri, ia selalu berusaha membuktikan diri. Di satu sisi, kerja kerasnya memang berefek baik, ia tak sulit meniti karier. Namun, di sisi lain, kerja kerasnya adalah bentuk dari perlawanan akan ketakutannya tidak bisa membuktikan diri.

Sedikit mengubah perkataan Ernest Hemingway; sama seperti orang-orang lain yang merasa takut, Van Basten tumbuh menjadi pesepakbola yang “kejam”.

Kekejaman Van Basten sebagai pesepakbola tak hanya diwujudkan dengan permainan-permainannya yang efektif, yang tak peduli dengan urusan “permainan cantik” dan tak mau memberikan sedikit pun kesempatan kepada lawan; namun juga lewat caranya dalam melindungi diri dan eksistensinya.

Entah siapa yang memprakarsai, yang jelas beberapa saat sebelum Piala Dunia 1990 digelar, Van Basten menjadi salah satu aktor sentral dicopotnya jabatan Thijs Libregts sebagai pelatih Belanda saat itu. Bersama Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Ronald Koeman –mereka memaksa agar Johan Cruyff yang menjadi pelatih. Namun apa daya, Cruyff juga bukan orang yang mudah diajak bekerja sama termasuk dengan federasi sepakbola Belanda sendiri. Akibatnya, nama Leo Beenhakker yang muncul sebagai pelatih.

Reputasi kekejaman Van Basten sebagai pelatih juga ditambah dengan insiden pengusiran Wim Kieft, penyerang senior Belanda saat babak kualifikasi Piala Eropa 1992. Konon, sejak awal Van Basten tidak terlalu akur dengan seniornya di Ajax Amsterdam tersebut. Lantas ketidaksukaannya itu berbuntut panjang. Tanpa basa-basi, ia meminta Rinus Michels untuk mengusir Wim dari skuat. Dan luar biasa, permintaan itu dituruti oleh sang pelatih.

Di antara segala ironi yang menghajarnya sebagai pesepakbola, cedera engkel yang dideritanya adalah yang terhebat. Cedera tersebut didapatnya saat bertanding bersama Milan melawan Ancona di gelaran Serie A musim 1992-1993. Barangkali walau kerap ditimpa ironi, kehadiran Van Basten sebagai pesepakbola tetap menakutkan buat lawan-lawannya. Lantas, ketakutan itu membikin mereka bersikap terlalu keras, sampai-sampai membikin sang lawan tak bisa lagi bertanding.

Ini bukan kali pertama Van Basten mendapat cedera, ia telah melewatinya berkali-kali. Sebagai pesepakbola, agaknya Van Basten tak keberatan untuk menerima penghargaan sebagai pesepakbola terbaik dengan kaki pincang. Ia juga tak gentar untuk naik dari satu meja operasi ke operasi lainnya, lantas berhadapan dengan pisau-pisau operasi dalam berbagai ukuran.

Di atas segala kengerian yang muncul akibat cedera tersebut, ketidakmungkinannya untuk sembuhlah yang paling mencekam. 17 Agustus 1995, menjadi puncak dari segala kesakitannya. Waktu itu, didampingi oleh Adriano Galliani, ia menghadapi wartawan yang memang telah menunggu. Siapapun yang pernah terpesona dengan penampilan Basten, agaknya berharap kalau hari itu, setelah dua tahun tanpa kepastian, ia akan mengumumkan kalau tak lama lagi ia bakal kembali ke lapangan dan mengenakan seragam nomor sembilan kebesarannya.

Hari itu, di hadapan media, dan entah berapa banyak pendukung yang tak bisa menyaksikannya secara langsung, Van Basten mengumumkan kekalahannya sebagai pesepakbola dari cedera engkel yang tak mungkin lagi disembuhkan. Van Basten, angsa dari Utrecht itu, mengundurkan diri sebagai pesepakbola di usianya yang masih tergolong produktif.

Van Basten menjalani dan mengakhiri karier sepakbolanya dengan anggun. Tak ada rengekan memilukan, apalagi air mata basa-basi. Yang ada hanya kalimat yang mengalir setenang mungkin, yang berisi ungkapan penyesalannya karena tak bisa bersama Milan lebih lama lagi. Barangkali, keanggunan dan ketenangan seperti inilah yang membikinnya bergelar angsa dari Utrecht.

Namun, jika mengacu pada sajak Nyanyian Angsa karya Rendra tadi, ada hal lain yang membuatnya diberi gelar “angsa”. Sekilas, sajak Rendra tak ada hubungannya dengan angsa. Ia bercerita tentang hari-hari terakhir seorang pelacur. Keanggunan angsa rasanya juga tidak pas bila dipakai untuk menganalogikan seorang pelacur. Pelacur, seperti apapun ia dan apapun yang menjadi alasannya untuk melacur, tak akan pernah dipandang sebagai sosok yang anggun.

Alih-alih terpesona dengan keanggunannya, saya lebih mengagumi daya tahan seekor angsa. Mereka yang beternak angsa pasti paham kalau angsa bukan hewan yang mudah mati. Angsa yang sudah berdarah-darah akibat disembelih masih bisa berlari-lari dan mengepakkan sayapnya kuat. Makanya, angsa tak pernah disembelih oleh satu orang saja, namun membutuhkan dua-tga orang agar berhasil.

Maria Zaitun yang digambarkan Rendra lewat puisinya juga serupa angsa. Walau hampir mati karena sipilis, Maria tetap berupaya ke sana ke mari. Keinginannya untuk sembuh ditolak dokter membuatnya bergegas untuk mengupayakan pengampunan dengan mendatangi seorang pastor. Jangankan pastor, “malaikat Firdaus” pun menolak kedatangan Maria sebelum akhirnya ia dijemput ajal.

Van Basten serupa Maria Zaitun, ia serupa angsa. Kariernya sebagai pesepakbola memang berdarah-darah, ia berulang kali dihajar ironi. Namun semengenaskan apapun kegagalan dan cedera tersebut, Van Basten tak lekas mati. Kalaupun sempat menepi, akhirnya ia kembali ke tengah lapangan, sampai akhirnya berhadapan dengan cedera yang merenggut kariernya sebagai pesepakbola. Van Basten memang tak sampai dijemput ajal karena cedera engkelnya, namun kariernya sebagai pesepakbola mati di usia 28 tahun.

Post By Bolabos.com